Baca esai menarik dan mendalam di The Letter

Orang FOMO Itu Miskin Identitas, Apakah Itu Kamu?

Benarkah orang fomo itu miskin identitas? Simak esai tentang mengapa kita sering terjebak tren dan cara menemukan kebahagiaan sejati tanpa validasi.

Beberapa pekan lalu saya diajak ngopi oleh beberapa teman. Tak biasanya, teman saya ini mengajak kumpul di tempat yang berbeda dari biasanya. Tempatnya cukup mewah, dengan pemandangan lapangan golf, harga menunya pun lumayan mahal untuk kantong orang bergaji UMR, dan katanya cukup viral di media sosial. Satu teman lainnya pun ikut mempertanyakan dan bercanda dengan kata “FOMO”. 

Mendengar kata “FOMO” membuat otak saya berpikir keras. Apakah betul teman saya yang mengajak ke tempat itu disebut FOMO? Apakah saya yang ikut datang karena ingin berkumpul dengan teman-teman juga disebut FOMO? Akhirnya, saya memiliki banyak pertanyaan di dalam pikiran yang jawabannya akan saya tuangkan dalam tulisan ini.

Fear of Missing Out (FOMO) memang umumnya didefinisikan sebagai perasaan takut ketinggalan akan sesuatu yang viral atau orang yang bertindak semata-mata karena tren demi validasi eksternal. Dan, yang jadi pertanyaan saya, apa yang membuat perasaan itu muncul? Kemudian, apa perbedaannya orang FOMO dan tidak?

Apakah Kita Benar-benar Ingin, atau Hanya Ingin Dilihat? 

Orang FOMO Itu Miskin Identitas, Apakah Itu Kamu?

Dalam pergulatan yang terjadi dalam pikiran saya, kesimpulan yang saya dapat adalah orang FOMO itu miskin identitas. Pernyataan yang menohok, bukan? Tapi, saya punya alasan di balik argumen tersebut. Mereka yang FOMO umumnya melakukan tindakan atau mengambil keputusan tidak berdasarkan kendali diri pribadi, tapi berdasarkan algoritma dan hal ramai/viral yang terjadi di media sosial.

Walaupun banyak dari mereka yang mengelak dengan kata “eksplorasi”, “momen”, atau “suasana”, pada akhirnya semuanya tetap bermuara pada satu hal: tren. Tren yang muncul di media sosial tercipta dari gelombang yang bernama traffic. Traffic ini yang nantinya memberikan sugesti pada orang-orang di media sosial terkait tren yang sedang ramai traffic.

Saya analogikan dengan hal lain. Ada kedai kopi viral yang ramai dibahas di media sosial, mereka yang FOMO akan merasa jika tidak berkunjung, maka akan ketinggalan tren. Ketinggalan tren di sini tidak masuk dalam kategori eksplorasi, karena tren muncul karena traffic bukan kesenangan atau keingintahuan pribadi terhadap tempat tersebut. Traffic akan memberikan sugesti seperti, tempat tersebut nyaman, kopinya enak, atau desainnya kalcer.

Karena sugesti itu berasal dari traffic yang banyak, maka otak orang FOMO akan tercuci sehingga ketika masuk ke kedai itu akan merasakan setidaknya satu hal yang sama seperti sugesti tersebut. Namun, jika pada akhirnya otak kita menjalankan logikanya, maka sugesti-sugesti tersebut akan buyar ketika ada sekelompok orang yang berkata hal lain, seperti rasa kopinya sama seperti kopi gerobakan.

BACA JUGA: Belajar Dari Spider-Noir, Mengapa Fase Butterfly Era Bukan Waktu yang Tepat untuk Memulai Hidup Baru  

Saat Identitas Digadaikan pada Konsumsi Massal

Hal ini selaras dengan ilmu pemasaran modern. Pemasaran modern sudah bukan lagi bersaing antar produk. Mereka kini menjual sesuatu yang bahkan tidak esensial. Seperti suasana, desain tempat, atau bahkan momentum. Menjual keunikan produk sudah tak populer, semuanya mulai menjual perasaan. Dan, orang FOMO adalah target empuk karena mudah terpengaruh dengan pesan pemasaran modern yang diviralkan tersebut.

Saya yang merupakan utilitarian, akhirnya mencoba kopi latte yang ada di kafe tersebut. Dengan harga yang lebih mahal, kopi yang saya minum rasanya sama seperti kopi yang saya buat di rumah. Berbicara soal momen berkumpul, obrolan yang kami obrolkan pun sama seperti yang diobrolkan jika kami ngopi di tempat yang sama. Soal latar belakang dan suasana, pada akhirnya hanya akan terpajang di media sosial. Menjadi bagian dari alat untuk menentukan kelas ekonomi kita.

Sampai akhirnya, saya berkesimpulan, orang FOMO itu miskin identitas. Mereka tidak tahu apa yang sebetulnya mereka tuju untuk internal pribadi. Mereka mengikuti algoritma dan traffic yang mereka lihat dari luar demi memenuhi validasi eksternal. Karena pada akhirnya ketika pulang dari kafe mewah itu, pengalaman dan perasaannya sama, selepas berbincang, bertemu, bersenda gurau, dan lupa dengan apa yang membuat kafe itu viral. Yang penting tetap kualitas pertemuannya.

Orang FOMO itu tak sama dengan orang eksploratif. Mereka yang FOMO tak punya kendali atas apa yang mereka inginkan. Kendali mereka ada pada dunia eksternal yang disebut media sosial. Ada barang viral, langsung beli tanpa pertimbangan. Ada tempat viral, langsung datang tanpa pikir dua kali. Mereka menggadaikan standar kebahagiaan pada konsumsi massal yang bahkan mereka tak tahu itu dibutuhkan atau tidak.

Sementara orang eksploratif, mereka punya kendali atas diri sendiri. Saya beri contoh mereka yang senang audio hi-fi. Mereka tak peduli dengan merek atau alat yang viral, mereka mencari apa yang mereka butuh dan inginkan. Jika merek dan alat yang viral itu tak sesuai standar mereka, maka tak jadi persoalan. 

Saya contohkan diri saya sendiri. Ketika orang berlomba-lomba membeli iPhone terbaru. Saya memilih membeli HP sesuai standar hidup saya. Bukan karena saya tak suka atau tak mampu beli iPhone, tapi standar kebahagiaan dan kebutuhan saya soal HP cukup dengan HP yang mampu berkomunikasi, bermain game sederhana, dan nonton YouTube. 

BACA JUGA: Tentang Patah Hati yang Berisik dan Telinga yang Memilih Mendengar  

Menemukan Kebahagiaan Tanpa Validasi 

Tapi, ada satu istilah lagi yang memunculkan pergulatan dalam pikiran saya: self reward. Tak jarang istilah ini dipakai orang FOMO yang defensif terhadap fakta. Menganggap bahwa mereka pantas untuk mendapatkan itu sebagai penghargaan atas diri sendiri. Namun, pernyataan itu malah memperkuat bahwa reward yang mereka berikan adalah untuk ego sosial yang sudah termakan sugesti konsumerisme impulsif dari pemasaran modern.

Padahal, self reward yang baik adalah ketika kita memberikan apa yang benar-benar kita mau dan butuh. Sesuatu yang walaupun orang tidak ramai-ramai melakukannya di internet, kamu bahagia mendapatkannya. Sesederhana menyantap mie ayam sepulang kerja. Sesuatu yang membahagiakan, tanpa merasa harus divalidasi orang lain.

Dukung saya untuk terus menulis karya yang menghibur dan membangun 

 

About the Author

Suka nulis dan suka teknologi. Seneng ngomongin pengembangan diri, kerjaan, dan kepenulisan. Betah-betah di sini, ya.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.