Sebagai orang yang punya banyak hobi, mengeluarkan uang adalah aktivitas yang sulit dihindari. Bertahun-tahun lamanya, saya menggantungkan hidup pada etalase digital bernama marketplace. Alasannya klasik, harga lebih miring dan pilihan tak terbatas.
Saya bahkan rela memangkas jam tidur, begadang menatap layar ponsel demi memburu diskon kilat dan voucer gratis ongkir yang tak seberapa itu. Di sana, nyaris semua kebutuhan hidup saya tebus, mulai dari laptop, ponsel, kacamata, baju, hingga printilan tak penting seperti casing.
Namun, seiring berjalannya waktu, entah karena saya yang tidak becus menyortir barang atau memang kualitasnya yang ampas, penyesalan selalu datang setiap kali lakban paket itu saya robek. Beli baju ukurannya meleset, bahannya tipis menembus cahaya. Beli barang elektronik, malah berakhir jadi pajangan karena tak berfungsi.
Padahal, sebelum checkout, saya sudah melakukan riset mendalam. Saya mengecek rekam jejak toko, membedah kolom komentar, sampai menonton ulasan di YouTube. Rasanya otak saya sudah lelah menimbang opsi layaknya sedang mempraktikkan teori di buku The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli. Tapi tetap saja, barang rongsokan yang berhari-hari saya tunggu itu yang sampai ke tangan.
Saya pernah teperdaya foto celana yang terlihat begitu estetik. Setelah tiba, jahitannya awut-awutan dan materialnya jauh dari ekspektasi. Di lain waktu, saya membeli sebuah jaket. Secara bahan terlihat menjanjikan dan harganya bersahabat. Tapi, umurnya tak sampai tiga bulan dan kancingnya patah. Ingat, patah, bukan sekadar copot. Padahal jaket itu cuma saya pakai untuk nongkrong dan mengetik di kafe, bukan untuk tawuran di jalur Pantura.
BACA JUGA: Saya Bisa Menghasilkan Uang di Atas UMR Cianjur Cuma Bermodalkan Chromebook Seharga Rp2 Jutaan
Pacar sayalah yang akhirnya menarik saya keluar dari ilusi digital ini. Sebagai penganut mazhab belanja luring (offline), suatu hari ia menyeret saya ke sebuah toko pakaian. Dari yang awalnya cuma berniat menjadi obat nyamuk, pertahanan saya runtuh juga.
Di toko itu, indra saya kembali bekerja sebagaimana mestinya. Saya bisa meraba tekstur kainnya, menarik pelan jahitannya untuk menguji ketahanan, dan melihat warna aslinya di bawah cahaya lampu tanpa campur tangan filter kamera.
Pengalaman itu menular. Puncaknya, saya nekat membeli laptop secara offline. Rasanya luar biasa menenangkan. Saya bisa menekan-nekan keyboard-nya, mengecek ketajaman layar, dan memastikan semua port berfungsi secara langsung.
Saya tidak perlu menebak-nebak hanya dari narasi reviewer gawai di YouTube. Hasilnya? Laptop terakhir yang saya beli langsung di toko ini adalah perangkat saya yang paling awet. Pokoknya, kalau belanja offline, ada keyakinan mutlak sebelum saldo rekening berkurang.
Soal harga, di toko fisik memang kadang sedikit lebih mahal. Tapi, mari kita logikakan: selisih harga itu saya anggap sebagai biaya layanan, ongkos kirim, dan premi asuransi ketenangan batin. Belum lagi kewajiban menyiapkan uang receh untuk tukang parkir yang tiba-tiba muncul dari dimensi lain saat kita menyalakan motor. Semua itu sepadan.
Di toko fisik, saya berinteraksi dengan manusia hidup yang bisa saya ajak diskusi, bukan sekadar chatbot otomatis yang membalas keluhan cacat produk dengan template, "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Kak."
BACA JUGA: Ini Alasan Mengapa Kita Tidak Diperbolehkan Memaksakan Kehendak kepada Orang Lain
Meski begitu, saya tidak menutup mata pada kekurangan toko fisik. Di kota seperti Cianjur, rak-rak toko tidak selalu menyediakan semua yang kita cari. Sebagai penikmat audio resolusi tinggi, saya kesulitan setengah mati mencari barang spesifik seperti DAC Hi-Fi.
Buku fisik juga senasib. Opsi kita sering kali dibatasi oleh algoritma pasar arus utama di daerah. Waktu kuliah, saya sangat ingin membeli buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, rak toko lokal sering kali angkat tangan. Untuk momen-momen berburu barang langka dan spesifik seperti inilah, marketplace terpaksa saya jadikan dewa penyelamat terakhir.
Saya tidak sedang berkampanye menyuruh orang memboikot marketplace. Ponsel saya pun masih memelihara aplikasinya. Hanya saja, untuk barang yang perlu disentuh, dipakai melekat di badan, atau benar-benar saya harapkan fungsionalitasnya, datang langsung ke toko ternyata memberi ketenangan yang selama ini saya kira sudah punah.
Dan semakin sering saya melakukannya, semakin saya sadar bahwa kadang ongkos terbesar dalam belanja bukan ongkir, melainkan rasa kecewa setelah paket dibuka.
Dukung saya untuk terus menulis karya yang menghibur dan membangun

