Menjadi penggemar Spider-Man banyak memberikan pengaruh dalam hidup saya sejak kecil hingga sekarang. Dari serial terbaru Spider-Noir, saya mendapatkan pelajaran penting yang lebih dalam dari sekadar intrik politik kotor dan bisnis ilegal, yakni tentang hubungan dengan perempuan. Sebab, bagi saya, Ben Reilly sang Spider yang diperankan Nicolas Cage adalah pahlawan super yang paling menyedihkan setelah Peter Parker versi Tobey Maguire.

Menonton delapan episode Spider-Noir mengingatkan saya pada kisah Sherlock Holmes. Serial ini terasa lebih dekat dengan dunia detektif berlatar tahun 1930-an ketimbang semesta pahlawan super pada umumnya. Ben Reilly, yang juga bekerja sebagai detektif swasta, harus menelan pil pahit karena kehilangan sang kekasih, Ruby. Sejak saat itu, ia tak lagi sudi menjadi The Spider.

Menjalani hidup sebagai detektif swasta, Ben mengalami krisis identitas. Ia berada di persimpangan antara harus menjadi sosok yang idealis atau oportunis yang licik. Dalam beberapa kesempatan, ia malah terlihat bekerja sama dengan Silvermane, musuh utama dalam serial ini. Namun, di saat yang sama, ia juga kerap menjadi orang yang paling keras menentangnya.

Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan Cat Hardy, wanita simpanan Silvermane. Melihat pesona Cat saat bernyanyi di bar sukses membuat mata Ben berkaca-kaca. Dalam perjalanannya mengenal Cat, Ben seolah menemukan kembali gairah hidupnya. Di sela-sela aksinya, Cat bahkan menjadi satu dari sedikit orang yang mengetahui rahasia bahwa Ben adalah The Spider. 

Di tengah perasaan Ben yang sedang berbunga-bunga, mantan tentara Amerika ini melakukan sebuah kesalahan fatal. Cat, yang tengah putus asa setelah Flint Marko alias Sandman meninggalkannya, diajak oleh Ben untuk pergi ke kota lain dan memulai hidup baru sebagai orang biasa. Dalam semesta ini, setiap musuh The Spider—seperti Molten Man, Megawatt, Sandman, dan Tombstone—adalah kelinci percobaan dari eksperimen dr. Faber, seorang ilmuwan dari era Perang Dunia I.

Belajar Dari Spider-Noir, Mengapa Fase Butterfly Era Bukan Waktu yang Tepat untuk Memulai Hidup Baru 

Melihat kebaikan dan ketulusan Ben, Cat pun mengiyakan ajakan tersebut. Namun, malang tak dapat ditolak. Setelah mengetahui bahwa Flint bisa disembuhkan oleh dr. Faber, Cat justru membelot. Ia membocorkan identitas The Spider kepada dr. Faber dengan syarat Flint harus diselamatkan. Dampaknya, Ben diculik oleh dr. Faber yang berniat mengambil organnya demi menyelamatkan Ogden, sang anak yang menua dengan cepat akibat eksperimennya sendiri. 

BACA JUGA: Setelah Bertahun-tahun Bergantung pada Marketplace, Saya Kembali Percaya Toko Fisik  

Setelah menyembuhkan Ogden menemukan penawarnya, laboratorium rahasia dr. Faber malah disatroni oleh Silvermane dan komplotannya. Lab tersebut dibakar hingga rata dengan tanah, menewaskan dr. Faber dan Ogden di dalamnya. Sementara itu, Ben berhasil kabur membawa penawar yang telah dibuat. Merasa putus asa, sakit hati, dan galau, Ben justru sibuk mabuk-mabukan di bar ketika semua orang sedang mencarinya, termasuk Cat. 

Singkat cerita, Ben kembali bersedia menjadi The Spider dan menyembuhkan semua manusia super, kecuali Megawatt yang tampaknya tewas. Pada akhirnya, Cat tetap memilih untuk hidup bersama Flint, bahkan Cat sendiri yang membunuh Silvermane, bukan The Spider. Meski begitu, Ben kembali menjadi dirinya seutuhnya: The Spider sekaligus seorang detektif swasta yang hebat.

Dari serial ini, kita bisa melihat bahwa Ben tampak terlalu terburu-buru ingin memulai hidup baru bersama Cat. Padahal, mereka baru saja saling mengenal. Hanya karena terbuai pesona sesaat, Ben berani membuat keputusan krusial di masa-masa butterfly era—fase mabuk kepayang di mana rasa jatuh cinta sedang menggebu-gebu dan segalanya terasa sangat indah. Pada masa ini, kita kerap merasa seolah takkan ada masalah yang mampu menyentuh kita.

Namun, di situlah letak jebakannya. Ben, yang kehilangan akal sehat karena dimabuk asmara, merasa bahwa Cat adalah pelabuhan hatinya setelah Ruby. Lantaran ia belum mengenal Cat lebih jauh, yang didapatkannya justru hantaman keras yang membuatnya terpuruk. Ben harus menelan pil pahit mendapati cinta yang ia dambakan kandas di tangan musuhnya sendiri.

 

Belajar Dari Spider-Noir, Mengapa Fase Butterfly Era Bukan Waktu yang Tepat untuk Memulai Hidup Baru

Maka dari itu, jangan pernah mengambil keputusan besar ketika kita sedang terlalu bahagia, terlalu sedih, atau bahkan terlalu marah. Sesuatu yang berbau “terlalu” sering kali hanya akan mengundang petaka. Saat emosi memuncak, akal sehat akan selalu tergeser ke nomor dua. Emosi mengaburkan berbagai probabilitas dan konsekuensi logis, membuatnya seolah-olah lenyap dari pandangan.

Ambillah keputusan saat emosi sudah stabil dan kondisi batin telah tenang. Dengan begitu, otak kita bisa berpikir jauh lebih jernih. Kita mampu mengalkulasi berbagai kemungkinan dampak dari jalan yang kita pilih. Pada akhirnya, kita bisa memutuskan hal yang paling tepat, lengkap dengan kesiapan mental untuk menanggung segala risikonya. Jangan menjadi seperti Ben yang terlalu terpesona oleh seorang perempuan dan merasa dunia akan selalu berpihak padanya. Sebab, kadang kala, karakter utama pun memiliki porsi kesialannya sendiri.

Dukung saya untuk terus menulis karya yang menghibur dan membangun