Tentang Patah Hati yang Berisik dan Telinga yang Memilih Mendengar
Semua pria yang galau dan Sakit hati itu sebetulnya cuma butuh kalimat sederhana: "Ayo Ngopi!"
Beberapa hari yang lalu, ramai berita mengerikan tetang seorang mahasiswa di Riau yang tega menganiaya mahsiswi di kampus dengan senjata tajam.
Alasannya sungguh bikin bergidik: sakit hati karena perempuan.
Membacanya membuat saya merenung. Tiap orang ternyata punya cara yang amat berbeda dan kadang ekstrem dalam merespons rasa sakit di kepalanya.
Beruntung, saya punya mekanisme pelampiasan yang agak berbeda.
Setiap kali melihat ada teman yang update status galau sedih sedikit—entah karena asmara yang kandas atau tekanan pekerjaan—saya pasti gatal untuk langsung merespons.
"Gas ngopi!"
Tentu saja, beberapa dari mereka awalnya kaget. Terutama teman-teman yang waktu zaman sekolah dulu sama sekali tidak akrab dengan saya.
Dari tawaran ngopi itu, ajaibnya kami sering berujung menjadi teman dekat.
Mereka akan menumpahkan semua kekesalannya. Dan saya hanya akan duduk, menyimak, lalu menimpali secukupnya.
"Wah, berat banget, bro" itulah kalimat yang biasa saya lontarkan.
BACA JUGA: Secanggih Apapun Teknologi, Jika Masih Malas Maka Tak Akan Ada Perubahan
Selesai nongkrong, mereka ada yang mengaku merasa lega dan ada juga yang berterima kasih.
Padahal, mereka tidak pernah tahu kebenaran aslinya.
Menyediakan telinga untuk mendengarkan keluh kesah mereka, secara tidak sadar telah mengobati rasa sakit saya sendiri.
Sebagai seorang introvert, memulai interaksi itu biasanya sangat menguras energi.
Tapi anehnya, mendengarkan kesedihan orang lain justru menjadi terapi.
Interaksi itulah yang diam-diam menyembuhkan penat dan luka batin di kepala saya.
Mengingat kembali kasus di Riau tadi, rasanya menyedihkan.
Sakit hati itu valid, tapi melukai orang lain sebagai pelampiasan adalah sebuah kejahatan.
Padahal, kadang obat terbaik dari rasa sakit hati bukanlah balas dendam, melainkan duduk bersama teman, menertawakan nasib, dan menyadari bahwa kita tidak sendirian.

