Secanggih Apapun Teknologi, Jika Masih Malas Maka Tak Akan Ada Perubahan
Sebagai orang yang membuat sistem informasi, website, atau teknologi otomasi lainnya untuk klien, terkadang ada rasa kesal yang membanjiri pikiran saya.
Bukan disebabkan klien yang gaptek, tapi karena klien yang malas.
Ketika saya berhasil membuat sistem yang sesuai keinginan mereka, saya selalu memberikan term and condition dan berbagai pedoman praktis untuk menggunakannya.
Namun, dalam praktiknya, selalu ada hal-hal sepele yang diinginkan oleh klien. Pengen ini otomatis, pengen itu otomatis, yang sebetulnya bisa dia kerjakan sendiri.
Memang, tugas saya adalah memastikan sistem yang saya buat bisa memudahkan. Tapi, konteks memudahkan ini juga harus disesuaikan dengan harga.
Ada satu klien yang ingin membuat sistem dengan harga yang cukup murah. Dia paham bahwa sistem itu penuh keterbatasan, otomatis dia melaksanakan hal-hal lainnya sendiri.
Tugas saya hanya memastikan sistem yang saya buat berjalan dengan lancar tanpa ada bug.
Bagi saya, klien seperti itu adalah klien yang tahu diri dan memahami porsinya sebagai user.
Malah ada juga klien yang meminta sistem sederhana, lagi-lagi harga murah, lalu setelah selesai cuma minta revisi 3 kali. Sisanya, aman. Done!
BACA JUGA: Tak Ada yang Bisa Kita Andalkan Selain Diri Sendiri, Berpikir dan Bangkit
Tapi, yang bikin saya kesal adalah klien yang membeli dengan harga "sedikit" lebih mahal, tapi banyak maunya.
Untuk hal-hal sederhana dan sepele saja masih harus minta diotomatiskan. Memang itu tidak salah, tapi menurut saya sangat berlebihan.
Menurut saya, teknologi memang untuk memudahkan, namun jangan menghilangkan esensi dari pekerjaan itu sendiri.
Saya adalah pengguna teknologi akut. Tapi, saya tetap mencoba beberapa hal dalam tekonologi itu secara manual.
Agar saya paham tentang cara kerjanya, agar saya paham bahwa bekerja dengan teknologi tidak sama dengan memperkerjakan teknologi.
Walaupun saya Gen-Z, tapi saya tidak malas. Ketika menemukan atau bahkan membuat teknologi baru, saya tidak hanya menggunakannya.
Tapi saya tetap ingin memberi esensi bahwa keterbatasan adalah keniscayaan yang membuat kita tetap disebut manusia.
Jika semuanya harus dilimpahkan pada teknologi, untuk apa jari dan otak kita diciptakan.
Pengguna tidak hanya harus pintar menggunakan teknologi, tapi juga mengerti cara kerjanya.
Intinya, jangan malas, maka teknologi tidak akan menggantikanmu.