Saat Spesifikasi Tinggi Bukan Jaminan Performa Stabil
Beberapa malam lalu saya menyempatkan diri bertemu kawan lama. Betul, sesuka-sukanya saya dengan ketenangan dan bekerja sendiri di depan layar, interaksi sosial tatap muka ternyata sesekali diperlukan untuk kalibrasi ulang pandangan hidup.
Di meja itu, ada tiga kawan saya. Kalau diibaratkan spesifikasi laptop, mereka ini adalah kelas flagship. Ada yang bekerja di perusahaan multinasional dengan jenjang karier jelas, ada yang bergaji tinggi di industri perhotelan, dan satu lagi sedang menempuh S2 dengan pendanaan penuh dari luar negeri. Latar belakang mereka pun, terutama si kawan yang sedang S2, memang sudah high-end sejak dari pabriknya—keluarga berada dengan resource melimpah.
Sekilas, hidup mereka terlihat overpowered. Berbeda jauh dengan saya.
Saya bekerja di sebuah yayasan dengan gaji UMR. Freelance di media pun penghasilannya tidak rutin, kadang ada, seringnya seadanya. Mengelola project media sosial dan website pun hasilnya receh. Kalau dilihat di atas kertas, spesifikasi hidup saya ini pas-pasan. Mirip laptop entry-level yang harus di-tweak sana-sini biar bisa jalan lancar.
Review Realita Setelah Obrolan Mendalam
Namun, setelah obrolan berjalan cukup lama, saya menemukan fakta yang mengejutkan. Ternyata, spesifikasi tinggi dan casing mahal itu menyimpan panas berlebih di dalamnya. Throttling, kalau istilah teknisnya.
Di balik kemapanan itu, ada cerita pertunangan yang batal karena konflik keluarga yang rumit. Ada juga yang mengalami pengkhianatan pahit dari pasangan, lengkap dengan bukti perselingkuhan yang menyakitkan. Uang dan karier mereka lancar, tapi sistem pendukung emosional mereka crash.
Sementara saya? Ya, saya masih harus berhitung soal pengeluaran. Tapi, saya memiliki 'fitur' yang ternyata sangat mahal harganya: ketenangan.
Saya memiliki calon istri yang setia dan serba transparan—sebuah support system yang stabil tanpa drama. Saya punya waktu untuk lari beberapa kali seminggu, menjaga tubuh tetap prima. Saya masih bisa ngopi dan bersenda gurau tanpa beban pikiran berat yang menghantui ketika pulang ke rumah.
BACA JUGA: Australia Larang Anak Main Medsos, Kok Kreatornya yang Ngamuk?
Hidup Bukan Soal Adu Spesifikasi
Sebagai catatan, semua kemewahan yang teman-teman saya miliki itu valid. Tapi kalau harus membayarnya dengan hilangnya ketenangan hati dan hancurnya hubungan personal, rasanya itu harga yang terlalu mahal.
Sama seperti membeli laptop, hidup juga soal kebutuhan dan kenyamanan penggunaan harian. Buat apa mengejar spesifikasi dewa kalau dipakai harian saja panas dan tidak nyaman?
Saya sadar, rezeki itu bentuknya bukan cuma transferan bank. Ketenangan saat meletakkan kepala di bantal, waktu luang untuk belajar hal baru, dan pasangan yang bisa dipercaya, itu adalah rezeki underrated yang sering lupa kita syukuri.
Overall, kehidupan saya yang spesifikasi UMR ini ternyata berjalan di luar ekspektasi. Performanya stabil, suhunya dingin, dan bikin saya nyaman menjalaninya.
Jangan keras kepala untuk membandingkan hidupmu dengan orang lain yang terlihat lebih sukses di media sosial atau saat reuni. Itu namanya menyiksa diri. Kecuali kamu memang siap dengan paket masalah yang mereka hadapi, ya jangan iri dengan pencapaian mereka.
Saya merasa cukup. Dan rasanya, perasaan cukup ini adalah pencapaian tertinggi yang saya miliki saat ini.
