Saya Pindah dari Windows 11 ke Linux, Hasilnya Benar-Benar Mindblowing

Saya Pindah dari Windows 11 ke Linux, Hasilnya Benar-Benar Mindblowing

Windows 11 kadang-kadang membuat saya stres, mungkin karena laptop saya yang speknya kentang. Sampai akhirnya, keputusan saya bulat, saya pindah dari Windows 11 ke Linux Mint Cinnamon. Dan, hasilnya ternyata benar-benar di luar dugaan saya. Tak ada penyesalan sedikit pun.

Sebetulnya saya tidak benar-benar pindah dari Windows. Saya memasang dual boot di laptop saya dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas dan mempertahankan hiburan. Windows untuk bermain game, Linux untuk bekerja. Tapi, selama dua hari ini saya lebih menghabiskan banyak waktu bersama Linux, mungkin karena baru dipasang.

Meskipun baru, laptop Advan Soulmate X saya memang bukan yang bagus. Cuma pakai AMD 3020e memang tidak punya harapan yang banyak. Walaupun, saya pakai RAM 12GB. 

Beratnya Windows 11 menjadi alasan utama kenapa saya memasang dual boot Linux Mint di laptop. Windows 11 memang terkenal dengan background process yang bejibun dan membuat CPU keberatan memproses itu semua, terlebih laptop kentang. Tapi, ketika pakai Linux, saya seperti punya laptop powerful.

Saya mencoba untuk melanjutkan pengembangan aplikasi Android saya di VSCode lewat Linux, dan hasilnya bernar-benar nikmat. Tidak ada panas yang terasa di laptop ini sama sekali, padahal saya sambil mendengarkan musik. Browsing, generate AI, buka WhatsApp web juga, semuanya benar-benar smooth.

LibreOffice dan Firefox jadi dua aplikasi yang paling saya tunggu-tunggu, walaupun di Windows ada, tapi feelnya beda. Firefox di Windows 11 terasa sedikit laggy, terlebih karena Microsoft Edge tidak bisa dihapus. Sementara LibreOffice, jelas itu andalan Linux. Pakai LibreOffice, seperti nostalgia waktu pakai ChromeOS.

BACA JUGA: Saat Spesifikasi Tinggi Bukan Jaminan Performa Stabil 

Saya Pindah dari Windows 11 ke Linux, Hasilnya Benar-Benar Mindblowing

Aplikasi Linux yang benar-benar membuat mindblowing adalah KDEConnect. Aplikasi ini mirip dengan PhoneLink milik Windows, tapi lebih smooth dan ringan. Fiturnya juga mirip-mirip, bahkan lebih bagus. Lewat KDEConnect, malah saya bisa suspend (sleep), lock, atau bahkan mematikan laptop lewat HP.

Selain itu, saya juga mencoba aplikasi bernama Deskscreen. Aplikasi ini bisa menjadikan tablet Advan V8 saya jadi second monitor dengan window yang berbeda. Padahal dulu saya nyari-nyari cara untuk fitur ini di Windows. Dan malah nemu di Linux.

Bahkan, Linux juga punya aplikasi Notion milik mereka sendiri bernama AppFlowy. Benar-benar mirip Notion, tapi gratis. Betul, G R A T I S ! Dan, aplikasi itu sangat membantu pekerjaan saya, terlebih karena pekerjaan saya banyak sekali setiap harinya.

Meski begitu, Linux Mint yang saya pakai bukan tanpa kekurangan. Satu-satunya kekurangan yang menggangu saya itu cuma Software Manager yang nggak jalan. Saya sudah lihat berbagai tutorial, tanya AI, baca artikel, tetap tidak bisa membuat Software Managernya jalan. Tapi, itu tidak terlalu mengganggu sekarang, karena semua aplikasi yang saya butuhkan sudah tersedia.

Keputusan saya pindah dari Windows 11 ke Linux Mint benar-benar tidak saya sesali, hasilnya sangat memuaskan dan mindblowing. Meskipun saya juga masih pakai Windows buat main game, tapi pasti Linux ini yang bakal sering saya pakai. Kalau kamu punya laptop kentang, tapi pengen lancar buat kerja, tak ada salahnya buat instal Linux.